|
ibnu
|
 |
« pada: 12 Januari, 2010, 10:30:48 » |
|
"Sanajan bisa ngagelar hajat laut, tapi kahirupan nelayan ayeuna serbasulit (Walaupun bisa menggelar hajat laut, tetapi kehidupan nelayan sekarang serbasulit-red.)," kata panitia lokal hajat laut nelayan Rancabuaya, Wahyu (32) Selasa (12/1)
Memang cukup berlasan, hasil tangkapan ikan sepanjang 2009 tidak menunjukkan grafik peningkatan dari tahun sebelumnya. Sedikitnya terdapat 334 nelayan di Pantai Rancabuaya. Jumlah produksi ikan pada November 2009 mencapai 456 kg, pada bulan berikutnya menurun hingga berkisar 231 kg.
"Permainan rakyat digelar hanya untuk ngareuah-reuah. Tetapi, kami tidak gelar prosesi sakral hajat laut. Kami cuma punya dana seadanya, jadi hanya berupa doa bersama. Sedangkan kegiatan permainan rakyat ditanggung oleh sponsor yang mau membiayai," katanya.
Kegiatan permainan rakyat dipusatkan di bibir Pantai Rancabuaya. Ratusan nelayan dan keluarganya tampak antusias mengikuti lima permainan yang dilombakan.
Permainan yang dilombakan di antaranya balap karung, tarik tambang, hingga lomba dayung karet dengan piring plastik sebagai alat kayuh.
Yang paling banyak diminati, lomba dayung dengan menggunakan piring plastik. Permainan tersebut sekaligus menunjukkan kelihaian para nelayan dalam mengayuh perahu karet yang biasa digunakan saat mencari udang di laut.
Selama acara berlangsung, pihak sponsor menyediakan hiburan dangdut. Rencananya, hajat laut akan ditutup dengan helatan wayang golek dengan dalang Dadan Sunandar Sunarya dan tablig akbar oleh Asep Sunandar Sunarya. (Pikiran Rakyat, 13/1)
Mari kita menghadiri penutupan Pesta laut Rancabuaya. Mudah-mudahan dengan digelarnya pesta nelayan Rancabuaya yang ke-9 ini diharapkan hasil tangkapan warga di masa mendatang menjadi lebih baik. "Akan tetapi, jangan berharap banyak. Apalagi, sekarang sedang musim angin baratan yang dikenal sebagai rentang waktu paceklik ikan. Dalam kondisi apa pun, harus tetap mensyukuri nikmat dari Allah SWT, jangan hanya dirayakan saat hajat laut," harapan Wahyu. Semoga.
|